Minggu, 14 September 2014

Jangan Banyak Berharap pada SSB Impor


  Sekolah Sepakbola Indonesia Arsenal (SSI Arsenal) adalah salah satu contoh kongkret strategi klub Eropa merangkul Indonesia. Tak hanya sekadar membuka ‘cabang’ akademi di tanah air, Arsenal memberi kesempatan trial bagi SSB Arsenal Indonesia di London. Dari kesempatan tersebut akhirnya dua pemain muda Indonesia diminta untuk tetap tinggal di akademi mereka selama dua hingga enam bulan. Mereka adalah Rangga Pratama (kiper) dan Nazarul Fahmi (striker).
Momen langka itu sontak saja membuat heboh persepakbolaan tanah air. Harapan tinggi langsung diapungkan pada dua pemain itu. Bermimpi memang harus setinggi langit. Tapi kita juga harus siap jika sewaktu-waktu terhempas kembali ke bumi.
Ke depan, jangan kaget jika ada anak-anak lain yang tersebar di berbagai ‘SSB impor’ lain juga mendapatkan kesempatan yang sama. Setelah mengeruk keuntungan di Indonesia, mereka pastinya merasa perlu untuk melakukan balas budi.
Seandainya kesempatan yang diberikan adalah untuk memasuki level yang lebih tinggi di akademi tentu harus kita dukung. Namun, jika ternyata hanya sekadar mendapat kesempatan trial beberapa bulan atau malah satu-dua pekan, rasanya kita sedang dibohongi dan dininabobokan.
Para pemangku kepentingan di sepak bola nasional harus mulai jeli menyikapi hal ini. PSSI harus lebih bijak dalam menyikapi maraknya kehadiran SSB impor. Jangan sembarang memfasilitasi, sementara imbal balik yang diberikan bagi pengembangan sepak bola tanah air dalam tataran makro tidak maksimal.
Manfaat lebih besar bisa kita dapatkan jika yang dilakukan klub-klub Eropa adalah menyiapkan pelatih-pelatih andal di tanah air dan memberikan program atau kurikulum yang biasa digunakan oleh akademi mereka. Dengan demikian, trickle down effect akan terjadi. Transfer of knowledge pertama dilakukan dari para pelatih akademi kepada pelatih lokal, untuk selanjutnya diajarkan ke atlet binaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar