Momen langka itu sontak saja
membuat heboh persepakbolaan tanah air. Harapan tinggi langsung
diapungkan pada dua pemain itu. Bermimpi memang harus setinggi langit.
Tapi kita juga harus siap jika sewaktu-waktu terhempas kembali ke bumi.
Ke depan, jangan kaget jika ada
anak-anak lain yang tersebar di berbagai ‘SSB impor’ lain juga
mendapatkan kesempatan yang sama. Setelah mengeruk keuntungan di
Indonesia, mereka pastinya merasa perlu untuk melakukan balas budi.
Seandainya kesempatan yang
diberikan adalah untuk memasuki level yang lebih tinggi di akademi
tentu harus kita dukung. Namun, jika ternyata hanya sekadar mendapat
kesempatan trial beberapa bulan atau malah satu-dua pekan, rasanya kita sedang dibohongi dan dininabobokan.
Para pemangku kepentingan di sepak
bola nasional harus mulai jeli menyikapi hal ini. PSSI harus lebih
bijak dalam menyikapi maraknya kehadiran SSB impor. Jangan sembarang
memfasilitasi, sementara imbal balik yang diberikan bagi pengembangan
sepak bola tanah air dalam tataran makro tidak maksimal.
Manfaat lebih besar bisa kita
dapatkan jika yang dilakukan klub-klub Eropa adalah menyiapkan
pelatih-pelatih andal di tanah air dan memberikan program atau
kurikulum yang biasa digunakan oleh akademi mereka. Dengan demikian, trickle down effect akan terjadi. Transfer of knowledge pertama dilakukan dari para pelatih akademi kepada pelatih lokal, untuk selanjutnya diajarkan ke atlet binaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar