Tue, 17/06/2008 - 17:47

KONDISI pendidikan dasar di Kabupaten Mimika yang kian terpuruk menggugah nurani berbagai pihak yang peduli dengan masalah pendidikan. Berbagai seminar dengan topik mengatasi masalah pendidikan di daerah ini sepertinya tak mampu menjawab keterpurukan itu.
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) setempat terkesan menutup mata dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Perhatian terhadap masalah pendidikan lebih tercurah pada sekolah-sekolah di Kota Timika sedangkan pendidikan di kampung-kampung dibiarkan terlantar.
Disisi lain, Dinas P dan P lebih mengutamakan pembangunan fisik berupa gedung sekolah ketimbang memperhatikan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dari anak-anak usia sekolah yang saat ini banyak me_ngalami putus sekolah.
Sulit menemukan benang merah mengenai persoalan pendidikan di Mimika. Praktis para pemerhati pendidikan di Mimika menilai sepertinya ada dua kutub yang sulit dipertemukan ketika hendak membicarakan masalah pendidikan di daerah ini. Dinas P dan P berjalan sesuai konsepnya, sementara yayasan atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli dengan pendidikan kesulitan menerobos atmosfir berpikir Dinas Pendidikan yang penuh dengan birokrasi. Tatkala dua titik itu tidak bertemu maka lagi-lagi yang menjadi korban adalah anak anak usia sekolah di daerah pedalaman dan pesisir Kabupaten Mimika.
Sulit menemukan benang merah mengenai persoalan pendidikan di Mimika. Praktis para pemerhati pendidikan di Mimika menilai sepertinya ada dua kutub yang sulit dipertemukan ketika hendak membicarakan masalah pendidikan di daerah ini. Dinas P dan P berjalan sesuai konsepnya, sementara yayasan atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli dengan pendidikan kesulitan menerobos atmosfir berpikir Dinas Pendidikan yang penuh dengan birokrasi. Tatkala dua titik itu tidak bertemu maka lagi-lagi yang menjadi korban adalah anak anak usia sekolah di daerah pedalaman dan pesisir Kabupaten Mimika.
Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang selama ini memberikan kontribusi cukup besar bagi dunia pendidikan di Mimika tak ingin melihat masalah pendidikan berjalan pincang terus menerus. Salahsatu terobosan yang dilakukan untuk menggairahkan kembali dunia pendidikan dasar adalah mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kaokanao, Distrik Mimika Barat. Konsep berpikir mendirikan SSB sesungguhnya sangat sederhana. Berdasarkan hasil lawatan LPMAK ke berbagai kota studi selama ini, banyak laporan yang disampaikan oleh lembaga-lembaga studi bahwa kebanyakan peserta program beasiswa LPMAK kalah bersaing dengan mahasiswa dari kota lain. Berdasarkan penuturan sejumlah dosen dan rektor, tampaknya ada sesuatu yang salah di Mimika. Mereka menyebutkan bahwa kondisi itu terjadi lantaran mutu pendidikan dasar yang kurang bagus.
Tergelitik dengan kritikan itu, Sekretaris Eksekutif LPMAK, John Nakiaya yang terus menerus dihantui pikiran tentang upaya membenahi pendidikan itu menggagas ide gila. Ia menyebutkan SSB adalah salahsatu alternatif untuk bisa menghimpun anak-anak kembali bersekolah, selain itu melalui sekolah tersebut bisa mengembangkan bakat anak-anak agar kelak menjadi pesepakbola profesional. Jadi ada manfaat ganda yang bisa dipetik dari gagasan pendirian SSB. Pendirian SSB juga merupakan salahsatu implementasi dari Rencana Strategis (Renstra) Biro Pendidikan LPMAK. Dalam renstra tersebut disajikan visi dan misi biro pendidikan, nilai-nilai dan komitmen yang harus dijunjung tinggi dalam rangka implementasinya. Strategi implementasi itu disusun pula berdasarkan empat fokus kebijakan dan salahsatunya adalah fokus kebijakan terhadap anak. SSB menjadi bagian fokus kebijakan anak.
Survei lokasi
Untuk mewujudkan ide itu, mantan pemain Persipura era 70-an yang telah mengantongi sertifikat sebagai Pelatih Sepakbola Usia Dini, Fred Imbiri didatangkan dari Jayapura guna melakukan survey lokasi di Kaokanao. Dua lapangan sepakbola yang akan digunakan untuk SSB yaitu lapangan milik SMP YPPK Lecoq D’armanville dan lapangan Sohilaet milik pemerintah.
Untuk mewujudkan ide itu, mantan pemain Persipura era 70-an yang telah mengantongi sertifikat sebagai Pelatih Sepakbola Usia Dini, Fred Imbiri didatangkan dari Jayapura guna melakukan survey lokasi di Kaokanao. Dua lapangan sepakbola yang akan digunakan untuk SSB yaitu lapangan milik SMP YPPK Lecoq D’armanville dan lapangan Sohilaet milik pemerintah.
Selama dua hari yaitu Jumat (11/4) dan Sabtu (12/4) tim LPMAK yang dikoordinir Kepala Biro HUMAS LPMAK, Yeremias Imbiri bersama Kepala Biro Pendidikan, Yohan Zonggonau serta pelatih sepakbola usia dini itu berada di Kaokanao guna melakukan sosialisasi kepada toko masyarakat, toko gereja, para kepala sekolah serta Kepala Distrik tentang rencana pendirian SSB.
Pada pertemuan bersama di Aula Asrama Putra Bintang Kejora, Kaokanao, Sabtu (12/4) para kepala kampung dan tokoh gereja mengatakan sangat mendukung rencana mendirikan SSB di Kaokanao. Mereka menyadari bahwa selama ini pendidikan di kampung-kampung pesisir dan pedalaman Mimika tidak berjalan efektif. Banyak anak kabur dari sekolah tapi juga para guru cenderung meninggalkan tempat tugas dan kembali ke Timika. Mereka berharap dengan kehadiran SSB di Kaokanao dapat menarik minat akan-anak untuk lebih giat bersekolah sambil berlatih sepakbola.
“Mudah-mudahan asrama yang dibangun LPMAK di Kaokanao yang sebelumnya penuh sesak tapi sekarang kosong bisa terisi kembali. Tidak saja asrama yang kosong, sekolahpun ditinggal pergi oleh anak-anak,” kata Ketua BAMUSKAM, Alex Dumatubun.
Kendati pembentukan SSB bertujuan untuk pembinaan bagi anak-anak pencinta sepak bola yang ingin mengembangkan kemampuannya namun LPMAK akan memberlakukan syarat bagi anak-anak yang berminat untuk bergabung di SSB. Salahsatu syarat adalah harus terdaftar sebagai siswa aktif di sekolah formal. Dengan demikian, sejak pagi sampai siang anak tersebut mengikuti pelajaran di sekolah sedangkan sore hari akan berlatih sepakbola. Diharapkan dengan adanya SSB ini, kesempatan bagi anak-anak untuk berlatih sepakbola semakin terbuka.
Program latihan yang akan diberikan untuk pemain di SSB ini tidak hanya sebatas latihan teknik, namun akan diberikan juga teori yang berkaitan dengan permainan sepakbola, seperti peraturan pertandingan. “Kami akan mencoba membuat SSB ini berbeda dengan SSB lainnnya karena selain latihan teknik, pemain juga akan diberi pengetahuan tentang peraturan dalam permainan sepakbola itu sendiri,” kata Fred Imbiri.
Program latihan yang akan diberikan untuk pemain di SSB ini tidak hanya sebatas latihan teknik, namun akan diberikan juga teori yang berkaitan dengan permainan sepakbola, seperti peraturan pertandingan. “Kami akan mencoba membuat SSB ini berbeda dengan SSB lainnnya karena selain latihan teknik, pemain juga akan diberi pengetahuan tentang peraturan dalam permainan sepakbola itu sendiri,” kata Fred Imbiri.
Semoga dengan terbentuknya SSB, dunia persepakbolaan di Mimika semakin meriah dengan lahirnya pemain-pemain muda yang dapat diandalkan. SSB yang didirikan LPMAK bermaksud membina anak-anak usia dini untuk menyalurkan bakatnya dalam olahraga sepak bola.
SSB akan dibagi berdasarkan kelompok umur yakni 6-9 tahun, 10-12 tahun, 13-15 tahun dan 15 tahun keatas. Metode latihannya akan disesuaikan dengan standar nasional. Latihan tidak hanya dilakukan di lapangan tapi juga ada yang diselenggarakan dalam bentuk kelas. “Namun kelas jangan dibayankan kelas dalam ruangan. Maksudnya lebih kepada materi pelajaran yang berupa teori tapi ini hanya khusus kelas remaja karena teori yang diberikan cukup rumit. Misalnya bagaimana posisi pemain belakang bek kanan saat menyerang. Kalau para remaja itu ‘kan sudah bisa membayangkan sedangkan siswa SD masih sulit untuk itu,” papar Fred. Jadi, untuk siswa SD lebih kepada teknik dasar dalam sepakbola seperti menendang, menahan bola dengan kaki dan kepala, memberikan bola dan lain-lain.
Sesuai rencana, SSB mulai beroperasi pada Agustus 2008 namun persiapannya akan dimulai pada Juni. Berbagai persiapan berupa perbaikan lapangan berikut pengadaan peralatan latihan akan dilakukan LPMAK.
Dukungan Pemerintah Distrik
Kepala Distrik Mimika Barat di Kaokanao, M Matulessy merasa bersyukur atas rencana LPMAK untuk mendirikan SSB tersebut. Menurut Matulessy, Pemerintah Distrik Mimika Barat akan mendukung program LPMAK karena niat baik LPMAK itu sudah menjadi cita-cita dari masyarakat Kaokanao selama bertahun-tahun. Pada pertemuan itu, pelatih sepakbola usia dini, Fred Imbiri secara umum menyampaikan sepakbola bisa dijadikan sebuah cita-cita untuk masa depan anak-anak. Saat ini sudah ada jenjang karir meraih cita-cita itu.
Menurut Fred, jenjang karir tersebut berdasarkan usia pemain mulai 10-12 tahun, usia 14 dan 17 tahun. Dengan menggunakan media tersebut, anak-anak tidak sekadar mendapatkan pengalaman dan just fun saja tapi bisa digunakan mengukir prestasi.
Kepala Distrik Mimika Barat di Kaokanao, M Matulessy merasa bersyukur atas rencana LPMAK untuk mendirikan SSB tersebut. Menurut Matulessy, Pemerintah Distrik Mimika Barat akan mendukung program LPMAK karena niat baik LPMAK itu sudah menjadi cita-cita dari masyarakat Kaokanao selama bertahun-tahun. Pada pertemuan itu, pelatih sepakbola usia dini, Fred Imbiri secara umum menyampaikan sepakbola bisa dijadikan sebuah cita-cita untuk masa depan anak-anak. Saat ini sudah ada jenjang karir meraih cita-cita itu.
Menurut Fred, jenjang karir tersebut berdasarkan usia pemain mulai 10-12 tahun, usia 14 dan 17 tahun. Dengan menggunakan media tersebut, anak-anak tidak sekadar mendapatkan pengalaman dan just fun saja tapi bisa digunakan mengukir prestasi.
Fred mengatakan pada anak-anak usia 10-12 tahun memang belum bisa dikatakan pemain jadi. Secara teknis saja, tulangnya belum terbentuk sempurna. Di sisi lain, hambatan anak-anak di usia tersebut cukup banyak seperti dari lingkungan sekitar. Sedangkan di usia 14-15 tahun, baru bisa dikatakan pemain jadi. Ia mengatakan, potensi bakat anak-anak di Papua khususnya di Papua bagian Selatan seperti Mimika bisa dikembangkan di dunia sepakbola dan hasilnya bisa luar biasa. (thobias maturbongs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar